Organisasi dunia kehutanan dan wanatani terkemuka bersatu untuk penguatan pencegahan dampak perubahan iklim

Organisasi dunia kehutanan dan wanatani terkemuka bersatu untuk penguatan pencegahan dampak perubahan iklim

 

1 Desember, 2018, Bonn, Jerman – Menghadapi meningkatnya ancaman perubahan iklim tentu diperlukan inovasi dan investasi triliunan dolar dalam melakukan restorasi bentang alam, adaptasi iklim dan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan.

Guna menjawab tantangan-tantangan tersebut, Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan Pusat Penelitian Wanatani Internasional (ICRAF) yang juga dikenal sebagai World Agroforestry sepakat untuk bergabung. Bersatunya dua organisasi terkemuka dengan fokus penelitian kehutanan dan wanatani ini dilakukan untuk penguatan kapasitas, penyajian  bukti-bukti sains yang diperlukan untuk mendorong investasi dalam pembangunan berkelanjutan dan akselerasi dampak.

Penyatuan ini efektif dimulai pada 1 Januari 2019 melalui satu Dewan Pimpinan bersama dan diikuti oleh implementasi kepemimpinan tunggal dan penyatuan kebijakan, proses dan sistem.

“Keputusan penggabungan ini memungkinkan kami lebih efektif merespon meningkatnya kebutuhan untuk melakukan integrase manajemen bentang alam dan lahan bagi dunia yang lebih berkeadilan, ketahanan iklim dan produktif,” kata Claire O’Connor, Ketua Dewan Penyantun ICRAF.

Dalam kesepakatan penggabungan tersebut, CIFOR dan ICRAF menegaskan bahwa seluruh komitmen dan kontrak yang ada akan terus dijaga untuk menjaga harapan kepentingan publik, donor organisasi dan pemangku kepentingan, termasuk negara tuan rumah.

Saat ini kedua organisasi terdiri dari lebih dari 700 staf di lebih dari 20 negara belahan Selatan, dengan anggaran tahun lebih dari 100 juta dolar.

“Dengan menjadi satu, kami bisa  meningkatkan 1,8 miliar dolar AS investasi dalam penelitian, kebijakan dan pembangunan agar mampu menangkap peluang-peluang secara lebih dinamis dan memperluas kontribusi kami pada realisasi jasa lingkungan yang diperlukan untuk menciptakan lapangan kerja dan ketahanan ekonomi hijau di masa depan,” kata Jose Campos, Ketua Dewan Penyantun CIFOR.

CIFOR dan ICRAF diarahkan untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan oleh CGIAR, sebuah kemitraan penelitian untuk ketahanan pangan masa depan, termasuk pengurangan kemiskinan, penguatan ketahanan pangan dan nutrisi, serta meningkatkan sistem sumber daya alam dan jasa lingkungan. Masing-masing organisasi juga bekerja mengatasi berbagai isu dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan Perjanjian Paris, terutama isu terkait penghapusan kelaparan, pengurangan kemiskinan, penyediaan energi terjangkau dan bersih, melindungi kehidupan di daratan, dan mengatasi perubahan iklim. Dengan pengabungan ini maka kedua organisasi akan terposisikan dengan baik untuk mengembangkan inovasi kunci dalam pendanaan dan integrasi pembangunan. Oleh karena itu, diharapkan mampu mengakselerasi dampak ekstensif ilmu pengetahuan dan inisiatif pembangunan.

Kontak untuk informasi lebih jauh:

Jeanne Finestone/ICRAF – J.Finestone@cgiar.org
Jeremy van Loon/CIFOR – Jeremey.VanLoon@cgiar.org

 

Mengenai CIFOR
CIFOR memajukan kesejahteraan manusia, keadilan dan integritas lingkungan hidup melalui penelitian inovatis, peningkatan kapasitas mitra, dan secara aktif terlibat dalam dialog dengan seluruh pemangku kepentingan untuk memberi informasi untuk kebijakan dan praktik yang berdampak pada hutan dan masyarakat. CIFOR merupakan bagian dari Pusat Penelitian CGIAR, dan memimpin Program Penelitian CGIAR mengenai Hutan, Pohon dan Wanatani (FTA). Kantor pusat kami berada di Bogor, Indonesia, dan kantor-kantor cabang di Nairobi, Kenya, Yaounde, Kamerun, Lima, Peru, dan Bonn, Jerman.

Mengenai World Agroforestry (ICRAF)
World Agroforestry (ICRAF) merupakan pusat ilmu pengetahuan dan pusat  keunggulan yang mengaitkan manfaat pohon bagi manusia dan lingkungan hidup. Sejalan dengan upaya untuk terus meningkatkan diri sebagai sumber ilmu pengetahuan dan informasi wanatani, kami mengembangkan pengetahuan praktis, dari ladang pertanian hingga menjangkau belahan bumi lain, dalam menjaga keamanan pangan dan keberlanjutan lingkungan hidup.