The Center for International Forestry Research (CIFOR and World Agroforestry (ICRAF) joined forces in 2019, leveraging a combined 65 years’ experience in research on the role of forests and trees in solving critical global challenges.

Keanekaragaman hayati berhubungan erat dengan kesejahteraan dan berkurangnya keanekaragaman hayati merupakan masalah bersama, menurut para pakar. Upaya penyelesaian masalah ini akan membutuhkan pendanaan. Pendanaan ini harus diarahkan ke produksi yang ramah keanekaragaman hayati untuk mencapai target keanekaragaman nasional dan internasional.
Oleh Philip Dobie dan Anja Gassner dengan kontribusi dari Susan Onyango, Kai Mausch, Corbett Nash, Robert Finlayson, dan Charlotte Häusler Vargas
Kita akan sampai di akhir 2019 tanpa mampu memenuhi Target-Target Keanekaragaman Aichi untuk 2020 secara penuh. Perhatian internasional telah beralih ke agenda keanekaragaman hayati global untuk 2020 dan seterusnya. Pelajaran penting yang didapatkan dari dekade sebelumnya adalah bahwa pelestarian keanekaragaman hayati membutuhkan pendanaan. Tentunya, donor OECD selama ini telah menyediakan begitu banyak pendanaan untuk proyek keanekaragaman hayati dan beberapa negara telah berinvestasi untuk menetapkan wilayah terlindungi yang baru, tetapi pendanaan proyek ini pada dasarnya bersifat jangka pendek. Ketersediaan anggaran jangka panjang untuk pelestarian keanekaragaman hayati tidak cukup di banyak tempat di dunia dan sumber pendanaan baru tidak tersedia dalam jumlah banyak. Keanekaragaman hayati masih dianggap sebagai ekonomi eksternal — di luar perekonomian arus utama — dan menarik hanya sedikit pendanaan khusus.
Urgensi dan kegagalan
Pada 24–25 Juni 2019 di Bonn, Jerman, Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit GmbH (GIZ) dan World Agroforestry (ICRAF) mengundang pakar pendanaan dari enam proyek yang didanai oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Pelestarian Alam, dan Keamanan Nuklir Jerman melalui inisiatif untuk pembelajaran global dan pertukaran pengetahuan. Pakar dari sektor publik dan swasta dari Afrika, Asia, Eropa, dan Amerika Selatan berbagi pengalaman dalam mengarahkan investasi ke produksi pangan yang ramah keanekaragaman hayati.

Para pakar menekankan bahwa tidak ada banyak waktu untuk menjawab tantangan keanekaragaman hayati planet kita, merujuk pada tiga laporan penting yang diterbitkan pada 2018 dan 2019: Global Assessment Report on Biodoversity and Ecosystem Services (Laporan Penilaian Global Mengenai Keanekaragaman Hayati dan Jasa Ekosistem) dari Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES); Living Planet Report (laporan tentang kondisi kesehatan planet) dari WWF; dan Food in the Anthropocene: the EAT–Lancet Commission on Healthy Diets (Pangan di Zaman Antroposen: Komisi EAT-Lancet untuk Pola Makan Sehat ) dari Sustainable Food Systems.
Laporan-laporan ini menyoroti hilangnya keanekaragaman hayati yang berada di tahap kritis dan terus meningkat di seluruh dunia, serta keharusan untuk mengubah produksi pertanian dan pola konsumsi pangan untuk melestarikan keanekaragaman hayati, dan di waktu yang sama, memberi makan populasi yang semakin meningkat. Transformasi pertanian dibutuhkan untuk mengubah produksi ke model yang menerapkan pendekatan yang ramah keanekaragaman hayati.
“Pasar saat ini dan kegagalan kebijakan serta intervensi mengakibatkan ‘pendekatan yang ramah keanekaragaman hayati’ dalam penggunaan lahan tidak lebih menguntungkan secara ekonomi dibandingkan dengan pertanian konvensional saat ini,” jelas Anja Gassner dari World Agroforestry, salah satu penulis artikel ini. “Para investor tidak terlalu tertarik pada pertanian yang ramah keanekaragaman hayati karena risikonya dianggap lebih besar, dengan ketidakpastian yang lebih tinggi dan lebih rentan dibandingkan dengan sistem penggunaan monokultur yang sangat intensif. Oleh karena itu, pertanian dan kehutanan menjadi sederhana hingga hanya ada beberapa jenis tanaman dan spesies pohon yang ditanam dan keragaman makanan masyarakat menjadi rendah.”
Mekanisme pendanaan baru
Para pakar menyarankan adanya insentif pendanaan baru untuk model pertanian transformatif yang ramah terhadap keanekaragaman hayati dan dapat menyediakan nutrisi sepanjang tahun untuk masyarakat pertanian serta orang-orang yang membeli produk mereka. Transformasi tersebut akan menggabungkan pertanian dengan konservasi dan berkontribusi terhadap United Nations Decade on Ecosystem Restoration (Dekade PBB untuk Restorasi Ekosistem).
“Sesudah Aichi Targets, kerangka kerja baru pelestarian keanekaragaman hayati diharapkan akan memandu cara kita melindungi dan memanfaatkan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan,” jelas Andreas Gettkant dari GIZ. “Harus ada pendanaan publik dan swasta untuk ini.”
“Negara-negara menggunakan hanya 0,14–4,6% anggaran publik untuk keanekaragaman hayati,” jelas Philip Dobie, research fellow di World Agroforestry dan salah satu penulis artikel ini. “Pendanaan ini harus meningkat sekitar 20–30 kali untuk mencapai Aichi Targets. Tantangan besarnya adalah mendapatkan pendanaan lain dan bukan mengandalkan pendanaan dari donor.”
Saat ini, pemahaman tersebut belum diarusutamakan. Seperti yang ditunjukkan di laporan IPBES, sudah ada kemajuan signifikan terkait kebijakan dan strategi, tetapi implementasinya masih tidak cukup, dan ini menunjukkan harus ada lebih banyak usaha dan kerja politis di lapangan. Kurangnya pendanaan yang cukup adalah kemunduran besar.
Bagaimana cara melakukannya?
Para pakar berpendapat bahwa sektor swasta, dan seringkali pemerintah, akan menerapkan transformasi pertanian jika investasi mengarah ke peningkatan pendapatan, mata pencaharian, dan nutrisi.
Komunitas peneliti berperan untuk menunjukkan bahwa investasi ke keanekaragaman hayati dapat mendukung pemerintah untuk mencapai tujuan pembangunan yang ambisius dan mengurangi risiko rantai suplai untuk sektor swasta.
Asumsi yang dimiliki kebanyakan pengguna lahan dan pembuat keputusan menekankan bahwa penggunaan lahan hutan yang paling menguntungkan adalah mentransformasi lahan menjadi monokultur dan perkebunan komoditas, yang kemudian merusak produksi pangan lokal dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Biasanya, kesuksesan relatif pertanian konvensional adalah hasil dari insentif pendanaan yang rumit dan pelatihan teknis yang berfokus memaksimalkan hasil panen ketimbang mengoptimalkan pengunaan lahan jangka panjang yang berkelanjutan dan mengurangi kerentanan produsen.
Jika pendanaan publik international tidak dipakai untuk mendemonstrasikan manfaat investasi di pertanian yang ramah keanekaragaman hayati, tren yang ada akan terus merusak keanekaragaman hayati dan mengelola lahan dengan tidak berkelanjutan, terlepas dari begitu banyak usaha untuk mencegah terjadinya hal semacam ini. Restorasi dan pelestarian keanekaragaman hayati membutuhkan masukan dari pendanaan publik, serta kerangka kerja dan insentif politis harus disesuaikan untuk mendukung keanekaragaman hayati.
“Pelestarian keanekaragaman hayati dan lanskap yang kaya keanekaragaman hayati membutuhan dua arus pendanaan,” ujar Peter Minang, pimpinan unit penelitian Greening Tree Crop Landscapes (Menghijaukan Lanskap Tanaman Pohon) di World Agroforestry. “Kita harus inovatif untuk membawa masuk dana dari sektor swasta ke penggunaan lahan yang berkelanjutan. Kita harus membuat skenario bisnis yang menarik bagi mereka.”
Pakar keuangan di lokakarya ini menekankan bahwa sumber pendanaan untuk pelestarian keanekaragaman hayati sebenarnya tersedia, sebagian besar dalam bentuk pinjaman bank komersial; dan sudah ada contoh di beragam negara untuk skema yang “mempermudah” persyaratan investasi di pelestarian keanekaragaman hayati, seringkali sebagai hasil dari dukungan pemerintah dalam bentuk jaminan.
Penggabungan pendanaan dari sumber publik dan swasta memiliki cakupan yang amat luas, menurut para pakar keuangan tersebut, dengan pemakaian pendanaan publik untuk menciptakan kondisi yang mengurangi risiko investasi untuk sektor swasta.
Mendesain skema untuk investor yang bersedia
Tantangan sesungguhnya adalah mendesain lebih banyak proposal investasi yang beragam, yang menarik dan menguntungkan untuk investasi swasta dan merefleksikan kondisi nasional serta lanskap yang unik. Salah satu temuan utama di lokakarya ini adalah bahwa dana swasta tersedia, yang berarti investor mencari peluang di proyek “hijau”. Tantangannya adalah tidak adanya hubungan di antara beragam aktor: 1) pemerintah yang ditugaskan untuk menyediakan layanan kepada petani kecil, koperasi, dan usaha petani, tetapi tidak sepenuhnya memahami kebutuhan untuk dan manfaat sistem produksi yang ramah keanekaragaman hayati yang terdiversifikasi, serta rantai nilai pangan yang terdiversifikasi; 2) penasihat teknis yang ingin mendorong perubahan, tetapi mencari pendanaan publik agar mereka dibayar untuk jasa mereka; dan 3) pakar keuangan yang bertugas untuk mengadaptasi skema investasi ke kondisi nyata dari para produsen di negara dengan perekonomian yang berkembang dan yang membutuhkan saran teknis.
Para pakar membahas produk keuangan yang sudah ada dan instrumen keuangan gabungan yang ditujukan untuk mempromosikan produksi yang ramah keanekaragaman hayati: 1) Biodiversity Investment Fund (Pendanaan Investasi Keanekaragaman Hayati) dari East African Development Bank, menargetkan pertanian, akuakultur dan pertanian, kehutanan, energi terbarukan, turisme dan satwa liar; 2) pendanaan gabungan keanekaragaman hayati dari Bank Nasional India untuk Perkembangan Pertanian dan Pedesaan; 3) restorasi lanskap hutan yang didanai modal swasta; 4) kerja Fores Finest Impact Land Use Consulting dengan investor untuk penggunaan lahan, perdagangan karbon, dan tanggung jawab sosial korporat; 5) Program Pembangunan PBB: Inisiatif Pendanaan Keanekaragaman Hayati di Peru, yang memprioritaskan mekanisme di dalam pemerintahan untuk mendukung sektor publik dan swasta; dan 6) gabungan pendanaan tradisional dari pemerintah pusat Uganda dengan donor menggunakan mekanisme pendanaan yang inovatif, termasuk pembayaran untuk jasa lingkungan, offset keanekaragaman hayati, dana perwalian, dan pasar untuk produk tersertifikasi di sektor pertanian, turisme, dan pertambangan.
Beberapa contoh inovasi di rantai nilai yang ramah keanekaragaman hayati termasuk: 1) solusi digital mByom Consultancy di Kerala, India yang menyediakan bantuan kepada petani skala kecil untuk pengadaan, suplai pagar pertanian dan jasa pertanian, dan sistem pembayaran elektronik yang transparan; 2) Prosedur Jasa Lingkungan dari Forest Stewardship Council yang dapat digunakan oleh badan usaha dan pemerintah untuk menunjukkan dampak pembelian, pembayaran, dan investasi di jasa ekosistem; 3) Biodiversity Action Plans (Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati) untuk perencanaan, penerapan, dan pemantauan tindakan yang ramah keanekaragaman hayati di dalam dan sekitar lahan pertanian; 4) proyek Sustainable Consumption and Production (Konsumsi dan Produksi yang Berkelanjutan) dari WWF yang menetapkan produksi dan konsumsi rendah karbon; dan 5) standar Union for Ethical BioTrade yang memandu badan usaha untuk produksi berbasis keanekaragaman hayati.
Memimpin penetapan keanekaragaman hayati sebagai aset ekonomi
Hal terpenting sekarang adalah negara-negara harus melihat keanekaragaman hayati sebagai aset ekonomi. Mereka dapat menggunakan model inovatif yang sudah ada, seperti pembayaran untuk jasa ekosistem, pendanaan hijau, kemitraan publik-swasta, royalti, offset keanekaragaman hayati, pertukaran utang untuk alam, penarikan beragam biaya, potongan pajak, bank karbon, dan lebih banyak model lain untuk menjadi katalisator pelibatan sektor swasta di pendanaan keanekaragaman hayati. Beberapa pihak telah membuat kemajuan, tetapi masih banyak hal lain untuk dilakukan. Harus ada lebih banyak paket pilihan yang disediakan dan diadaptasi untuk kebutuhan yang spesifik.
Kelompok pakar mengimbau pemerintah untuk memimpin upaya untuk memastikan keanekaragaman hayati terlindungi dan dikenali sebagai aset nyata, melalui beragam mekanisme.
- Pendanaan nasional dan kelompok kerja kebijakan memimpin integrasi antara tujuan keanekaragaman hayati dan mekanisme pendanaan pertanian
- Investasi publik di lanskap gabungan mozaik—contohnya, melalui peningkatan dukungan penyuluhan pertanian dan layanan penasihat pedesaan, meningkatkan kualitas rantai nilai, meningkatkan sistem bibit dan benih untuk pohon asli dan tanaman yang masih jarang dipakai—untuk menurunkan risiko badan usaha masyarakat kehutanan dan pertanian
- Pelibatan sektor swasta untuk mengembangkan prinsip dan standar rantai nilai yang inklusif dan ramah keanekaragaman hayati untuk membantu perusahaan berkomitmen dan mendiversifikasi
- Studi penelitian untuk menguantifikasi efek investasi terhadap keanekaragaman hayati, restorasi jasa ekosistem, dan pangan bernutrisi.
Latar belakang
Lokakarya ini diselenggarakan oleh beberapa proyek dari International Climate Initiative (Inisiatif Iklim Internasional). Para pakar dan pimpinan proyek amat berterima kasih atas kepemimpinan dan dukungan dari Kementerian Lingkungan hidup, Pelestarian Alam, dan Kemanan Nuklir Jerman.
- Harnessing the Potential of Trees on Farms for Meeting National and Global Biodiversity Targets (Peningkatan Potensi Pohon di Pertanian untuk Memenuhi Target Keanekaragaman Hayati Nasional dan Global)(diimplementasikan oleh World Agroforestry)
- Private Business Action for Biodiversity (Aksi Usaha Swasta untuk Keanekaragaman Hayati) (diimplementasikan oleh GIZ)
- Biodiversity and Ecosystem Services in Agrarian Landscapes (Keanekaragaman Hayati dan Jasa Ekosistem di Lanskap Agraria) (diimplementasikan oleh GIZ)
- Mainstreaming Biodiversity into the Mexican Agricultural Sector (Mengarusutamakan Keanekaragaman Hayati ke Sektor Pertanian Meksiko) (diimplementasikan oleh GIZ)
- International Forest-Related Climate Finance (Pendanaan Iklim Terkait Hutan Internasional) (diimplementasikan oleh GIZ)
- Mainstreaming EbA: Strengthening Ecosystem-based Adaptation in Decision-making Processes (Mengarusutamakan EbA: Memperkuat Adaptasi Berbasis Ekosistem dalam Proses Pembuatan Keputusan) (diimplementasikan oleh GIZ)
World Agroforestry (ICRAF) is a centre of scientific excellence and development that harnesses the benefits of trees for people and the environment. Knowledge produced by ICRAF enables governments, development agencies and farmers to utilize the power of trees to make farming and livelihoods more environmentally, socially and economically sustainable at multiple scales. ICRAF is one of the 15 members of the CGIAR, a global research partnership for a food-secure future. We thank all donors who support research in development through their contributions to the CGIAR Fund.
Related News
Media advisory
Nairobi, 26 January 2023 – Climate change is making it harder to grow enough nutritious food, but a unique programme is training African scientists in…
Peat Education, why is it Important? The peat ecosystem in the Kubu Raya Regency is a natural resource that plays an important role in people's livelihoods.
Media advisory
- Dr Eliane Ubalijoro will be the first African woman CEO of a CGIAR Research Center
- CIFOR-ICRAF’s acting CEO Dr Robert Nasi will become Chief Operating…
Kampala, Uganda | THE INDEPENDENT | Ethanol is an environmentally friendly way of fighting black coffee twig borer, a relatively new pest ravaging coffee plants in Uganda,…