The Center for International Forestry Research (CIFOR and World Agroforestry (ICRAF) joined forces in 2019, leveraging a combined 65 years’ experience in research on the role of forests and trees in solving critical global challenges.
Hutan rawa gambut (HRG) merupakan tipe ekosistem yang khas. Hutan campuran rawa gambut yang biasanya berada pada kedalaman gambut antara 2 - 6 m ini memiliki variasi jenis lebih tinggi dari pada vegetasi di kubah gambut dengan kedalaman >10 m. Jenis-jenis pohon kayu bernilai ekonomi tinggi, seperti ramin (Gonystylus bancanus), rengas (Gluta renghas), perepat (Combretocarpus rotundatus), dan kelompok meranti (Shorea balangeran, Shorea uliginosa, Shorea parvifolia), dapat dijumpai di area ini. Selain kayu, HRG juga menghasilkan produk bukan kayu atau hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti getah jelutung yang dihasilkan oleh pohon jelutung rawa (Dyera sp.), gaharu, gemor dan sundi. Bahkan, di beberapa tepat HRG dapat menjadi sebagai sumber HHBK berupa ikan. Indonesia termasuk negara yang memiliki kawasan hutan rawa gambut cukup luas yang tersebar di Sumatra, Kalimantan dan Papua. Namun, alih guna lahan yang marak terjadi dalam dekade terakhir ini mengakibatkan luasan hutan rawa gambut semakin berkurang, salah satu contohnya adalah yang terjadi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Hutan rawa gambut yang masih tersisa di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, berada di sekitar aliran Sungai Bram Itam yang saat ini ditetapkan sebagai hutan lindung gambut (HLG) dan di Sungai Landak - Senyerang. Meskipun berada pada satu hamparan dan keduanya merupakan hutan sekunder, namun secara umum kondisi vegetasinya menunjukkan adanya perbedaan kerapatan pohon. Kondisi HRG di Sungai Bram Itam yang merupakan kawasan lindung justru lebih terbuka dengan kerapatan 525 pohon/ha, sedangkan di Sungai Landak, Senyerang memiliki kerapatan lebih tinggi yaitu 1330 pohon/ha. Di kedua lokasi tersebut masih dijumpai beberapa jenis pohon penghasil HHBK, seperti jelutung rawa, gaharu, gemor, sundi dan asam kandis yang merupakan HHBK potensial untuk dikembangkan.